Perayaan Nyepi di Kecamatan Pegajahan
PEGAJAHAN,P3LANGINET-Meski tinggal 10 rumah tangga lagi warga keturunan Hindu Bali tetap merayakan perayaan Nyepi dengan khidamat. Sebagai warga pendatang yang terpisah jarak dari pulau Bali, I Neagah Sumadi Yase (62) tetap mengtaati seluruh ritual perayaan Nyepi, bagaimana rupanya? Batara Tampubolon , Serdang Bedagai Berbagai ornamen berupa umbul-umbul kuning keemasan dihiasi janur, kain bermotif kotak-kotak kombinasi warna hitam-putih, ditambah lagi alunan gamelan khas Bali, menyemarakkan suasana Pantai Cermin, dalam Perayaan Melasti.Minggu (14/3) lalu. Demikian segelumit acara ritual menyambut Hari Raya Nyepi tahun baru Caka 1932, yang diterangkan I Neagah Sumadi Yase. Upacara Melasti merupakan serangkaian ritual dalam menyambut Hari Raya Nyepi tahun baru Caka 1932, yang akan berlangsung Selasa (16/3). Kepercayaan umat Hindu Bali, Melasti bermakna mensucikan buana agung (alam semesta) serta buana alit (diri manusia sendiri) untuk tercapainya keseimbangan. Ritual Melasti juga dilakukan pensucaian simbol-simbol suci agama Hindu. Dalam ritual seperti ini, selalu dilaksanakan dengan mempersembahkan sejumlah sesaji yang disebut dengan Pakelem ke laut. Dilakukan di laut karena segara dianggap sebagai sumber tirta amerta (air kehidupan). Selain itu pemujaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa juga dilaksanakan dalam Melasti kali ini agar dalam tahun baru caka ke depan selalu mendapatkan perlindungan, keselamatan dan terhindar dari segala kekuatan negatif seperti bencana alam.“Dengan Melasti kali ini, kami berharap terhindar dari segala musibah,” ucap pengurus Pura Panataran Dharmaraksaka, I Neagah Sumadi Yase, ketika ditemui dirumahnya di Desa Pegajahan, Kecamatan Pegajahan, Kabupaten Serdang Bedagai. Sumandi juga menjelaskan sebelum sampai ke Puncak perayan Nyepi, umat Hindu juga akan melaksanakan Upacara Tawur atau Ngrupuk dilaksanakan di Pura Panataran Dharmaraksaka, pada Senin (15/3). Untuk upacara itu dimaksudkan untuk memperoleh keseimbagan sebagai seorang umat tuhan dengan berusaha melaksanakan sifat Kedewataan.“Sesudah Tawur itu, barulah umat hindu melaksanakan Catur Brata Nyepi,” Jelas Sumandi. Catur Brata Nyepi sendiri berarti mati geni (tidak menyalakan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak bersenang-senang). Diharapkan dengan melakukan Catur Brata Nyepi ini semua umat Hindu bisa mengintropeksi diri, betapa kecilnya manusia ini dibandingkan kuasa Tuhan Yang Maha Esa. Pengamatan awak koran ini, di Desa Pegajahan dirumah-rumah warga keturunan Hindu Bali banyak berdiam diri dirumah. Selain melakukan, ritual sembahyang ke pura, kegiatan puasa selama 24 jam dilakukan.”Puasa selama 24 jam, boleh tidak dilakukan anak-anak,”tambah Sumandi. Suasana perayaan Nyepi terlihat kental di kediaman I Wayan Gio (51)yang merupakan pemangku Pura Panataran Dharmaraksaka. “Umat Hindu Bali, saat nyepi melakukan semedi atau melakukan meditasi, sebari memanjatkan doa terhadap sang pencipta,” terang Wayan Gio. Bahkan, seisi penghuni rumahnya meliputi anak serta istrinya tidak melakukan aktifitas. Selain berdoa dan meditasi, biasanya kegiatan hari raya Nyepi dilakukan dengan berdiam diri dirumah.”Dirumah berkumpul bersama sanak keluarga tidak melakukan kegiatan apapun. Bahkan bila tamu datang berkunjung tidak boleh disugukan air minum,”terangnya. Kehadiran warga keturunan Hindu Bali di Desa Pegajahan bermula dengan dibukanya program buruh kontrak sekitar tahun 1963 untuk ditempatkan di perkebunan PTPN II di Kebun Melati, Kabupaten Serdang Bedagai. Sekitar 63 kepala keluarga (KK) warga keturunan Hindu Bali didatangkan dari Pulau Bali sebagai buruh perkebunan. Namun, 63 KK buruh kontrak tersebut dibagi dua, meliputi pertama yang terdiri 32 KK berada di pondok Agung, serta 31 KK ditempatkan di pondok bali atau di Desa Pegajahan. Masa kontrak kerja mereka sekira 6 tahun pertama, setelah selesai kontrak pertama ada yang kembali Bali. Tetapi ada delapan kepala keluarga pemperpanjang kontrak keduanya (tiga tahun,red). Kemudian diberikan kesempatan untuk bermukim di pondok milik perkebunan PTPN III itu. Kedelapan Kepala Keluarga itu adalah penghuni kampung Bali, sedangkan pondok Agung atau kampung Agung ditinggal pergi penghuninya.”Mungkin warga yang melepaskan kontraknya, rindu kampung halaman. Padahal disana lahan pertanian mulai berkurang, tetapi itu pilihan mereka,” bebernya Wayan Gio. Kemudian seiring berubahan waktu. Warga keturunan Hindu Bali bertambah menjadi sepuluh kepala keluarga.”Tambahan dua kepala keluarga lagi, berasal dari anak warga keturunan hindu bali yang telah menikah, selain menetap disini, tidak jarang bermukim ke pulau Bali,” tambahnya. Meski terdesak sebagai warga minoritas, warga keturunan Hindu Bali tetap teguh mempertanhkan akar budaya serta agama Hindu. (btr/sc)
Post a Comment Blogger Facebook